Langsung ke konten utama

Berikut 8 Sampul Album yang Diambil Dari Kejadian Nyata, Salah Satunya Dari Indonesia


Sampul album atau sampul single masih menjadi unsur penting dalam sebuah rangkaian produksi karya musik. Sampul didesain sedemikian rupa, agar menarik minat calon pembeli. Biasanya sampul dibuat untuk merepresentasikan konsep band, atau kandungan dalam album tersebut. Tapi ada juga sampul yang dibuat agar terkesan nyambung, dengan judul albumnya.

Desain sampul dibuat beragam. Ada yang terbuat dari kolase foto, ilustrasi gambar, lukisan, stensil, foto band, dan lain sebagainya. Bahkan ada juga yang sekadar font belaka. Seperti sampul album Never Mind the Bollocks, Here's the Sex Pistols milik Sex Pistols. Namun dari sekian desain sampul, ternyata ada band-band yang menggunakan foto dari kejadiannya nyata. Berikut delapan diantaranya:

1. Led Zeppelin (album)

Debut album milik Led Zeppelin ini dirilis pada 12 Januari 1969, dan berisikan sembilan materi lagu. Sampul albumnya digarap oleh seorang desainer bernama George Hardie, yang terinspirasi dari tragedi terbakarnya balon udara LZ 129 Hindenburg, milik Jerman pada 6 Mei 1937.

Sebelumnya Hindenburg telah sukses melakukan 62 penerbangan komersil. Namun saat penerbangan dari Frankfurt, Jerman, menuju Manchester Township, New Jersey, Hindenburg mengalami kebocoran pada sel bahan bakar, sehingga hidrogen merembes keluar dan bercampur dengan oksigen, menciptakan kebakaran hebat hanya dalam tempo 34 detik.

Tragedi yang menelan 37 korban jiwa tersebut, diabadikan oleh Sam Shere, seorang jurnalis berita foto internasional. Tidak ada alasan khusus mengapa gambar ini dipilih Jimmy Page (gitaris) sebagai sampul, sekadar merujuk nama band mereka sendiri.

2. Dead Kennedys, Fresh Fruit for Rotting Vegetables (1980)

Fresh Fruit for Rotting Vegetables adalah album perdana Dead Kennedys. Album ini rilis pada 2 September 1980, via Cherry Red Records. Sampul album tersebut berasal dari foto kerusuhan White Night yang terjadi pada 21 Mei 1979 di San Francisco, California, yang diabadikan oleh Judith Calson.

Dalam gambar nampak mobil-mobil polisi dibakar massa dalam persitiwa itu. Kerusuhan White Night dipicu oleh ketidakpuasan masyarakat khususnya kaum LGBTQ, atas putusan hakim terhadap Dan White, pelaku pembunuhan Walikota George Moscone, dan Harvey Milk, seorang politisi dan juga aktivis gay.

3. The 4-Skins, A Fistful Of...4-Skins (1983)

A Fistful Of...4-Skins adalah album kedua milik band Oi! asal London, Inggris, The 4-Skins. Album ini menandai bergabungnya Roi Pearce pada vokal, setelah hengkang dari The Last Resort. Selain materi lagu yang sedikit berbeda dari album pertama, sampul album A Fistful Of...4-Skins juga keluar dari pakem band oi! pada umumnya.

Sampul albumnya diambil dari foto perang sipil Kamboja. Foto ini diyakini diambil pada 4 Februari 1974 di distrik Mukh Kampul, yang berjarak sekitar 24 km arah utara dari kota Phnom Penh. Dalam gambar nampak dua orang tentara pemerintah menenteng kepala-kepala kombatan Khmer Merah. Tidak diketahui foto ini hasil jepretan siapa, namun hak cipta sepenuhnya dimiliki oleh The Bettmann Archive.

4. Mr. Big, Lean into It (1991)

Lean into It adalah album kedua Mr. Big. Album ini rilis pada 26 Maret 1991, dan memuat lagu-lagu populer mereka seperti "Just Take My Heart" dan "To Be with You". Gambar sampulnya berasal dari kecelakaan kereta api Montparnasse yang terjadi pada 22 Oktober 1895, di stasiun Gare Montparnasse di Paris, Prancis.

Kecelakaan ini dipicu oleh rem yang tidak berfungsi. Sehingga kereta terus melaju menghantam dinding tembok stasiun, dan jatuh dengan posisi hidung lokomotif tersungkur ke bawah. Tidak ada korban jiwa dari penumpang kereta. Hanya saja seorang wanita dinyatakan meninggal terkena reruntuhan dinding tersebut. Beberapa pejalan kaki lainnya juga dilaporkan cidera.

5. Rage Against the Machine, self titled (1992)

Ini merupakan debut album Rage Against the Machine, yang rilis pada 3 November 1992. Album keluaran Epic Records ini menghimpun sepuluh repertoar, diantaranya; "Bombtrack", "Killing in the Name", "Bullet in the Head", "Take the Power Back", dan lain-lain. Sampul albumnya berasal dari peristiwa bakar diri biksu Thich Quang Duc di sebuah persimpangan jalan, kota Saigon, pada 11 Juni 1963. Foto tersebut diambil oleh Malcolm Browne, seorang jurnalis dari Associated Press (AP). Peristiwa itu dilatarbelakangi oleh sikap Presiden Ngo Dinh Diem, yang dianggap lebih pro-Katolik dan cenderung represif terhadap umat Buddha, sehingga menimbulkan pertentangan di masyarakat. Thich Quang Duc melakukan aksi itu sebagai bentuk protes.

6. Black Train Jack, No Reward (1993)

No Reward adalah debut album Black Train Jack, yang rilis pada tahun 1993. Band punk rock asal kota New York ini, digawangi oleh Brian Goldstein, Nick Forlano, mendiang Rob Vitale, dan Ernie Parada, mantan gitaris band hardcore Token Entry.

Sampulnya menggunakan foto perpisahan Babe Ruth yang dipotret dari belakang, oleh Nathaniel Fein, fotografer dari surat kabar New York Herald Tribune. Babe Ruth adalah seorang pemain bisbol legendaris asal klab New York Yankees. Foto tersebut diambil pada 13 Juni 1948 di Stadion Yankee. Ini merupakan penampilan terakhir Ruth di depan publik, selang dua bulan kemudian dia meninggal dalam usia 53 tahun, karena komplikasi penyakit yang dideritanya.

7. Van Halen, Van Halen III (1998)

Van Halen III adalah album ke-11 milik band rock Van Halen, yang rilis pada 17 Maret 1998. Album ini menandai bergabungnya Gary Cherone dari band Extreme sebagai vokalis utama, menggantikan Sammy Hagar. Van Halen III adalah album dengan durasi terpanjang dari album-album mereka sebelumnya. Pada sampulnya nampak sosok Frank "Cannonball" Richards tengah bersiap menahan peluru yang keluar dari corong meriam, yang diarahkan pada perutnya dari jarak dekat. Ajaibnya Frank dapat menahan peluru itu, meski terjungkal namun dia segera bangkit tanpa cidera sedikit pun. Sebetulnya ini merupakan potongan video, bukan gambar diam atau foto. Sayangnya tidak diketahui pasti kapan peristiwa itu berlangsung. Frank meninggal pada 7 Februari 1969, dalam usia 81 tahun.

8. Downset, Check Your People (2000)

Check Your People adalah album ketiga milik unit hardcore/rap rock asal Los Angeles, Downset. Album ini rilis via Epitaph Records, pada 3 Oktober 2000. Sampul albumnya berasal dari peristiwa berdarah yang terjadi di Ketapang, Jakarta Pusat, pada 22-23 November 1998. Foto tersebut diabadikan oleh James Nachtwey, seorang fotografer perang dan jurnalis foto asal Amerika Serikat.

Dalam foto itu nampak seorang pria tengah dikejar oleh sekelompok warga, bersenjatakan golok, clurit, kayu, batu, dan sebagainya. Di wajahnya terlihat kucuran darah yang berasal dari kepala. Pria malang yang tidak diketahui identitasnya itu, akhirnya meregang nyawa secara mengenaskan. Peristiwa Ketapang adalah konflik horizontal yang berlatar belakang SARA. Peristiwa ini memicu konflik dengan skala yang lebih besar di Kota Ambon, Maluku, pada 2001.

Tidak diketahui pasti mengapa Downset menggunakan foto ini, nampaknya sekadar untuk menyelaraskan dengan judul album mereka saja.***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Boleh dicoba! 10 Album Cover Versions Berikut Ini, Punya Feel  Beda Sukar rasanya menemukan arsip band lokal, yang menggarap album daur ulang atau cover versions , kecuali Salute To 90's (Universal Music, 2018) milik Pee Wee Gaskins, Recycle + (EMI Music Indonesia, 2007) dari Dewi Dewi, dan Salute to Koes Plus/Bersaudara (Sony BMG Indonesia, 2004) persembahan Erwin Gutawa. Sependek pelacakan saya, Indonesia lebih banyak memproduksi kompilasi album tribut. Sebut saja; A Tribute To Koes Plus (RnB Production, 2004), A Tribute To Ian Antono (Sony Music, 2004), From Us to U tribute to Titiek Puspa (Musica Studio’s, 2005), A Tribute To KLa Project (KLa Corp, 2011), Yovie and His Friends: Irreplaceable (Music Factory Indonesia, 2014), Melody Chrisye (Formula Music, 2016), A Tribute To Extreme Decay (Playloud Records, 2016), dan lain sebagainya. Album cover versions dengan album tribut, sekilas terdengar sama namun sebetulnya berbeda. Album tribut biasanya digarap secara ban
  Punk Gay: Garang Tapi Melambai Berbekal alamat korespondensi yang tertera di sampul album Operation Ivy, pada tahun 1999 akhir saya beranikan diri berkirim surat ke Lookout Records. Setelah menunggu dua bulan, surat saya dibalas plus katalog, poster promo, dan sticker. Rasanya senang bukan kepalang, karena saya jadi tahu semua band yang dinaungi oleh label besutan Larry Livermore tersebut. Diantara band-band itu, ada satu yang menyita perhatian saya yaitu Pansy Division. Jujur saja sebagai straight guy , saya geli melihat sampul album-album mereka. Terserah bila kalian cap saya homophobia. Karena alasan itulah saya enggan tahu lebih jauh tentang mereka. Sebetulnya saya sudah notice band ini dari soundtrack film Angus. Bahkan sewaktu Green Day berada di Jakarta ─ dalam sesi interview dengan majalah Hai ─ Mike Dirnt mengenakan kaus putih bertuliskan Pansy Division.   Setelah era internet merebak, saya baru tahu kalau ada skena queercore dalam kultur punk, dan Pansy Divison sal
Seperti Halnya Anti-Flag, 10 Band Ini Juga Pernah Tersandung Isu Feminisme Dalam Skena Pada tanggal 19 Juli 2023 atau tiga hari lalu, saya menemukan unggahan di media sosial yang berisi informasi bubarnya Anti-Flag. Unggahan tersebut hanya berupa tangkapan layar, dari   situs urun dana Patreon, tanpa disertai deskripsi yang rinci. Sampai saat ini pun tidak ada pernyataan resmi dari Anti-Flag, mengapa mereka mengambil keputusan itu. Yang anehnya lagi semua akun media sosial Anti-Flag, hingga situs resminya lenyap. Agak kaget juga mereka bubar, sebab banyak lagu-lagu Anti-Flag yang saya sukai, sebut saja: "You've Gotta Die for the Government", "Turncoat", "The Press Corpse", "The Bright Lights of America", "Sodom, Gomorrah, Washington D.C.", "The Ghost of Alexandria", "Brandenburg Gate",        "20/20 Vision" dan lain-lain. Bahkan ketika mereka menggelar konser di Jakarta pada 2012 lalu, saya bela-bel